Archive for the ‘Sports’ Category

Bravo Ukraine

Monday, June 26th, 2006

Ukraine reached the quarter-finals after beating Switzerland on penalties.

The Swiss missed three spotkicks, but Ukraine’s Artem Milevskiy, Serghiy Rebrov and Oleg Gusev made no mistake to seal a 3-0 shoot-out victory.

During normal time Ukraine’s Andriy Shevchenko glanced a header against the bar, while in reply Alexander Frei rattled the woodwork with a free-kick.

Competing in their first World Cup finals, Ukraine now meet Italy in the quarter-finals in Hamburg on Friday.

Shevchenko missed Ukraine’s first penalty in the shoot-out, but as Marco Streller, Tranquillo Barnetta and Ricardo Cabanas failed with tame efforts, the Eastern European side progressed to the last eight.

Ukraine goalkeeper Olexandr Shovkovskiy saved the penalties of Streller and Cabanas, while Barnetta hit the bar with his spot-kick.

As they exited the competition Switzerland set two records. They are the first team to go out of the World Cup without conceding a goal and they are the first side not to score a single penalty in a shoot-out.

Given Ukraine had lost their opening group game 4-0 and this is their first World Cup, Oleg Blokhin’s side have regrouped impressively to reach this stage of the competition.

In a tightly contested match both teams found it difficult to create clear openings in the penalty area, with the game’s best chances coming from set pieces as well as some powerful long-range shots.

Raphael Wicky tested Shovkovskiy early on with a rising shot, while a hammer effort from Shevchenko flashed past the post midway through the second half.

In the absence of the injured Philippe Senderos, the task of keeping a check on Shevchenko fell to Johan Djourou. It did not take Shevchenko long to slip Djourou’s leash.

A darting run allowed Shevchenko to sneak ahead of Djourou and the Ukraine striker then showed great bravery as he threw himself at the ball to reach Maxim Kalinichenko’s free-kick only for his effort to rebound off the bar.

Switzerland striker Frei showed he could be as threatening when his superbly flighted free-kick left the Ukraine bar juddering.

The ball rebounded to Barnetta, whose effort was less impressive, as he ballooned his shot wide.

Just past the half-hour Switzerland withdrew Djourou, replacing the Arsenal teenager with Stephane Grichting.

Before the game went into extra-time, Ukraine twice went close from corners, as Andriy Gusin flicked a header narrowly, while Pascal Zuberbuhler sliced an attempted punch.

Kobi Kuhn
Kuhn’s side failed to score a single penalty in the shoot-out

Ukraine also claimed a penalty after Grichting enveloped himself round Andriy Voronin after the Swiss defender came off second best in an aerial duel.

In extra-time Grichting redeemed himself when he bravely cut out substitute Milevskiy’s dangerous cross.

At the other end of the pitch Gusin made a superb blocking tackle just as Streller prepared to shoot from a promising position.

Given the recent spate of yellow and red cards in the tournament this game was an altogether less explosive affair, with referee Benito Archundia not booking a player until just before the hour.

Not that the game was without its ugly moments, notably when Andriy Nesmachniy was left writhing in agony after an ugly challenge from Cabanas.

Vladislav Vashchuk was also unhappy with a Cabanas tackle as the Swiss midfielder raked his studs down the Ukraine defender’s shin.

from BBC sports

Beef rump steak and Italy vs US

Saturday, June 17th, 2006

103_0819 Very dissapointed….

Duh, akang Del Piero, mas Nesta, bang Pirlo, mamang Buffon.. gimana sih?? Koq cuman menancapkan gol di gawang US sekali doang??  Duh.. kecewa nich gue.. dah gue bela-belain mau merayakan kemenangan Italy dengan memasak Beef Rump Steak komplit dengan curly fries dan salad. Cihuy banget dech pokoknya..

Tapi, kekecewaan itu harus berakhir saat sang wasit meniup peluit panjangnya. Gila.. masak Italy bisa draw sama US sich.. waa… nangis nich gue… Kang Del Piero.. koq tega sich membuat hati daku teriris iris??? hik hik..

Ada apa dengan US ya? Koq sepertinya pertahanannya susah banget ditembus ama akang Piero dkk?  Apakah pengaruh kedigjayaan Bush juga merasuk sampai ke pertahanan US dalam permainan sepak bola ?

Sebenarnya, bermain sepak bola ibarat sedang bermain dalam sebuah negara. Ada yang jadi striker, ada yang jadi defender, ada yang jadi midfielder, ada yang jadi goal keeper, ada yang jadi wasit, dan ada yang jadi penonton.

Dalam sebuah tatanan negara, ada yang harus menjadi ujung tombak penyelenggaraan sebuah negara, yaitu striker. Tugas striker ini adalah memberikan pelayanan kepada konstituen dalam rangka menjalankan amanah perjuangan bangsa. Tugas striker sangat berat. Kenapa? Karena di kaki striker lah tujuan hidup berbangsa dan bernegara bisa terlaksana. Striker yang handal mampu memberikan pelayanan prima dan tidak memiliki potensi mental sebagai seorang rent-seeker. Artinya, striker tidak bisa bekerja sendirian kalo tidak ada mid fielder yang memberi nya bola. Begitu pula, striker tidak bisa menggolkan sendiri kalo si bola tidak ditendang oleh deffender. Oleh karena itu, perilaku striker yang mumpuni dan yang bisa memberikan kemenangan buat tim nya adalah seorang striker yang bisa memanfaatkan the scarcity of resources yang ada padanya dan mencetak gol.

Lalu, siapakah para striker dalam kehidupan bernegara ?? Mereka adalah para pegawai negeri yang secara langsung berhubungan dengan masyarakat. Para pegawai negeri yang berkualitas akan menggiring potensi dan sumber daya yang ada dalam sebuah negara menjadi sebuah modal untuk kelangsungan hidup berbangsa dan bernegara. Para pegawai negeri yang bermental korup dan rent-seeker sejati tidak akan berhasil mencapai tujuan kehidupan berbangsa dan bernegara. Yang ada hanya kegagalan dan mencetak gol dan kekecewaan publik karena kecerobohan sang pegawai negeri sebagai striker.

Kemudian, kegagalan dan keberhasilan striker harus didukung oleh mid fielder. Kehadiran mereka dalam memberikan umpan-umpan yang strategis dan tepat dapat dimanfaatkan oleh striker untuk menyarungkan gol ke kubu lawan. Mid fielder dalam kehidupan bernegara adalah para politisi dan para pembuat keputusan. Boleh dibilang posisi ini adalah sangat politis dan strategis, mengingat keputusan yang harus diambil para mid fielders harus balance antara kepentingan mencetak gol atau kah menyelamatkan bola dikala serangan musuh sedang membabi buta. Jika dianalogikan dengan kehidupan bernegara, para politisi dan para pembuat keputusan harus dapat meramu keputusan dan kebijakan yang dapat mengakomodasi kepentingan rakyat sebagai konstituen mereka. Pengambilan keputusan yang tidak transparan dan hanya mementingkan kepentingan kalangan tertentu hanya akan membuat bola yang di lambungkan sang mid fielder tidak berarti dan kandas begitu saja, tak jarang bola tadi malah diberikan kepada musuh. Itulah pentingnya kecermatan mid fielders dalam mencari strategi dan mengambil keputusan yang terbaik untuk memberikan bola kepada striker ataukah kepada deffender.

Sementara itu, deffender memiliki tugas yang cukup berat. Tugas mereka harus dapat menghadang musuh yang sewaktu-waktu dapat menyerang. Kegigihan deffender perlu pula memakai strategi yang jitu. Seperti strategi yang dipakai tim deffender US dalam pertandingan kali ini. Mereka dengan gigih mengurungkan tendangan akang Del Piero ke gawang US dan merelakan tendangan sudut buat Italy. Para deffenders berusaha untuk mengarahkan kepada corner kick saja dan berusaha untuk tidak memberikan kesempatan untuk free kick bagi tim nya Zamrotta ini. Ini sebuah strategi. Kalo menurut saya, para deffenders ini adalah para pelaku ekonomi diluar sektor publik, yaitu sektor swasta dan kalangan bisnis. Bayangkan jika para deffender bermain sendirian tanpa ada strategi dan tidak mau cooperatif dengan para team players yang lainnya? Bisa jadi sang deffender maju ke depan dan berusaha mencetak gol. Bisa jadi para deffenders tidak gigih membela gawang sehingga sendi-sendi perekonomian bangsa digerogoti external shock yang bisa membobolkan gawang. Itulah yang terjadi dengan para deffender Serbia-Montegro saat kebobolan 6-0 dari Argentina kemarin. Sungguh memalukan, walau to be honest, lawan mereka sebenernya tidak sebanding. Tetapi, kalo aja para deffender Serbia-Montenegro gigih mempertahankan gawang mereka seperti apa yang dilakukan defender US pada pertandingan hari ini, tentunya skor kekalahan Serbia-Montenegro tidak separah seperti itu. Para pelaku bisnis dan kalangan swasta tepatnya dapat berperan menjadi kontributor dalam kehidupan berbangsa dan bernegara dalam kapasitas mereka yang sangat vital, yaitu sebagai garda bangsa dalam menghadapi serangan musuh. Jika para pelaku bisnis lengah dan tidak memiliki nasionalisme yang tinggi, maka aliran-aliran modal yang semula diperuntukkan bagi pertumbuhan ekonomi bisa terbang ke Swiss atau ke Singapur atau ke negara-negara lain. Situasi ini pernah terjadi waktu krisis keuangan terjadi di Indonesia akhir tahun 1997, dimana terjadi capital flight besar-besaran yang membuat perekonomian Indonesia lumpuh seketika. Kondisi seperti itu membuat gawang Indonesia kebobolan dan sang goal keeper terkapar tidak berdaya.

Kemudian, pentingnya kehadiran penonton. Mengapa penting? Selain sebagai pemberi semangat, kehadiran penonton juga dapat menyaksikan secara langsung bagaimana permainan berjalan secara live dan tidak ditutup-tutupi. Kalo sebuah permainan sepak bola disiarkan di tivi, bisa aja semuanya merupakan rekaman belaka dan segala sesuatunya sudah diatur. Tapi kalo permainan live, tidak ada yang ditutup-tutupi dan semua permainan berjalan dengan transparan. Begitu juga dengan kehidupan bernegara. Jika dalam sebuah negara menerapkan citizen participatory dalam pengambilan keputusan dan pelaksanaan keputusan, maka perjalanan kehidupan bernegara akan menjadi transparan. Rakyat sebagai konstituen akan merasakan kehadiran diri mereka dalam pemerintahan dan dapat menjadi bagian dalam pengambilan keputusan tersebut. Inilah yang kemudian dalam teori Social Contract diibaratkan sebagai mutual understanding antara negara dan rakyat. Negara sebagai lembaga yang melaksanakan kontrak antara negara dan rakyat harus bisa melakukan amanahnya secara transparan dan menyertakan rakyat di dalamnya. Oleh karena itu, peranan rakyat sebagai penonton dalam pengambilan keputusan dan pelaksanaan kebijakan menjadi sangatlah penting.

Elemen selanjutnya yang tak kalah pentingnya dalam sebuah pertandingan sepak bola adalah Wasit. Keberadaan wasit sangat penting dalam mengatur ritme permainan dan memberikan reward serta punishment yang proper kepada masing-masing tim. Seorang wasit harus bersikap adil dan berwibawa sehingga permainan dalam berjalan secara adil. Dalam kehidupan bernegara, peranan wasit diwakili oleh sebuah peradilan. Peradilan yang adil dan berwibawa akan memberikan kenyamanan bagi PNS, politisi, pembuat keputusan, pelaku bisnis, dan warga masyarakat. Kehadiran wasit yang bebas dari korupsi akan membuat pertandingan akan berjalan dengan mulus tanpa ada perasaan ketidakpuasan diantara para pihak yang berkepentingan.

Itu tadi sekilas analogi antara pertandingan sepakbola dengan kehidupan sebuah negara. Lalu apa hubungannya dengan beef rump steak?

Ceritanya, saya mau merayakan kemenangan Italy dengan memasak steak tersebut. Walau agak sedikit gosong karena harus ditinggal-tinggal di grill, tapi lumayan juga untuk obat pelipur lara. Italy bisa seri melawan US, tapi saya tetap merayakannya dengan memasak makanan hasil jerih payah selama 30 menit meng-grill steak nya dan satu setengah jam untuk me-marinate beef nya. Jadi, biarlah hasil pertandingan Italy VS US berjalan dengan mengecewakan.. tapi beef rump steak saya tetep enak dan cihuy.. Ini buktinya..  103_0820

Evening trip to Old Trafford

Sunday, February 12th, 2006


Sejak pertama kali menginjakkan kaki di negaranya ratu Elizabeth ini, sudah terbayang di mata mengunjungi stadion bola. Maklum, dulu sempet ngefans banget sama olahraga yang satu ini..

Ngga terkecuali dengan Old Trafford yang menjadi salah satu sasaran pemuasan nafsu saya dalam rangka pemenuhan visa sebagai full-time turis. Setelah menunggu sekitar 4 bulan (lama banget bo), akhirnya sempet juga menjajagi kaki di Old Trafford. Klasik banget sich alasan kenapa baru sekarang ke Old Trafford .. apalagi kalo bukan pekara assignments dan reading list yang setumpuk. Maklum, walaupun visa saya full-time tourist dan part-time student, tetep aja naluri kepengen belajar tetep menggebu-gebu, akhirnya saya jadi terjebak ama rutinitas seputar tempat kos-priorsfield-library..

Hari itu, saya melongok stadion Old Trafford bersama Tim Badminton yang sedang bertandang ke Birmingham dalam rangka All England. Ada mas Icuk Sugiarto, Sigit, Chandra, Grace, Hendra. Dari Tim Birmingham ada Pak Surya dan Donke. Kami bertolak dari Birmingham sekitar jam 3 dengan jarak tempuh sekitar 2 jam via motorway.

Saat mobil memasuki pelataran parkir stadion Old Trafford, mulut saya sudah ternganga dengan papan bilbord segede gajah bertuliskan "Manchester United". Duh duh… my dream akhirnya comes true.. Yang tadinya cuman keliatan di TV akhirnya sekarang bisa dilihat dengan mata kepala sendiri.. Decak kagum juga bergumam diantara segenap All England players.. Maklum, dari kesekian kalinya mereka bertandang ke Birmingham, baru kali ini mereka bisa berkesempatan mengunjungi Old Trafford.

Dilihat dari segi fisik, stadionnya MU ini so usual sich, ngga ada yang special. Namanya juga stadion bola, yang ada cuman gedung berbentuk lingkaran yang tengahnya bolong. Dari segi ukuran, ngga lebih gede dari Stadion Senayan lah. Tapi ditata sedemikian apik sehingga banyak turis yang bela-belain datang untuk sekedar foto-fotoan aja di depan stadion ini.

Memasuki reception, kami sudah disambut sama logo Manchester United yang gede banget.. Akhirnya kami menyempatkan diri untuk potret bersama (kayak foto yang di publish ini nih). Receptionnya ramah dan membolehkan kami potret-potret.. maklum, dengan muka memelas gitu kami meminta ijin untuk potret. Ngga kalah heboh, Mas Icuk (yang udah uzur gitu, hehe) juga ikutan foto bareng.

Ohya, salah satu yang menarik di stadion ini yaitu MU Outlet. Di Outlet ini dijual merchandice MU yang kalo di Indonesia harganya selangit gitu. Harga disini katanya sich lebih murah dibandingkan Outlet di luar Manchester (walo diconvert ke rupiah masih aja tetep mahal bo). Saya ngga sempet beli sich karena pas mau ke situ dah keburu tutup toko nya. Sebel euy!

Tapi ada satu hal yang bikin saya sempet pusing. Toilet wanita. Ngga di Inggris, ngga di Jakarta, kondisi Toilet wanita tetep aja menyedihkan. Kotor, bau, jorok.. Apalagi kondisi toilet di Inggris gini yang ngga ada air untuk membersihkan, makin menambah pusing kepala aja. Hanya karena keharusan dan ngga bisa ditahan lagi, akhirnya dengan berat hati saya memasuki toilet wanita di Old Trafford itu.

Well, setelah satu jam asik melihat-lihat suasana Old Trafford ditengah udara Manchester yang dingin banget, akhirnya kami memutuskan pulang kembali ke Birmingham. Dalam perjalanan pulang saya sempet mencontreng Old Trafford dalam daftar pencarian nafsu sebagai Full-Time Tourist saya..