Archive for the ‘Film’ Category

Tristan and Isolde

Sunday, April 23rd, 2006

Tristanisolde An epic love story

Cerita ini mengisahkan lika-liku percintaan segitiga antara Tristan-Isolde-King Marke. Kisah yang diangkat dari jaman Medieval ini ternyata merupakan sebuah legenda yang ditulis ama seseorang bernama Thomas pada tahun 1165.

Tristan -son of Aragon- (yang diperanin ama James Franco) adalah seorang anak bangsawan Tristan1yang hidup di jaman pecah-belah nya Britain. Pembantaian yang dilakukan pasukan Irish dan menyebabkan kematian ayah Tristan yang begitu tragis, membuat Tristan harus mengungsi ke  kerajaan Cornwall (sekarang daerah Wales) dan diasuh oleh King Marke. Dari sinilah kehidupan Tristan bermula dan berkembang, termasuk mendapatkan perhatian yang lebih dari bapak angkatnya, King Marke, dan membuat Melot (adik tirinya) cemburu.

SIngkat cerita, terjadi aksi pembantaian lagi yang harus dialami oleh Cornwall. Pasukan Irish menyerang Cornwall dan mengambil paksa penduduk Cornwall untuk dijadikan budak mereka. Tristan geram banget dengan kondisi ini. Dengan persetujuan bapak angkatnya, Tristan mengatur strategi untuk merebut kembali para tawanan ini.

Akhirnya dengan segenap usaha dan perlawanan, tawanan berhasil dibebaskan, namun alangkah malang nasib Tristan karena saat dia berjuang melawan pasukan Irish, ia terkena sabetan pedang salah seorang ksatria dari Irish (duh, gue lupa namanya). Ternyata di ujung pedang itu dilapisi sama racun yang mematikan. Tristan roboh. Pasukan Cornwall mengira kalo Tristan udah dead karena Tristan ngga bangun-bangun biar udah di oglek-oglek juga ..(duh, bahasa Indonesia yang baik dan benernya apa ya?). Tristan pun dikubur dengan cara dihanyutkan ke laut dan perahunya ditembak dengan panah berapi. Lho, apa cerita nya abis ampe disini?

Ternyata engga saudara-saudara. Inilah hebatnya jadi jagoan, biarpun dikabarin udah mati gitu, Isolde2 tapi ternyata masih hidup juga.. Dan disinilah cerita percintaan itu dimulai. Perahu yang sejatinya membawa Tristan ke alam baka, ternyata malah membawa Tristan ke Irlandia dan ditemukan oleh seorang Putri cantik dari sebuah kerajaan di Irlandia. Putri cantik itu bernama Isolde (yang diperanin ama Sophia Myles).

Saat menemukan Tristan di tepi pantai, Isolde udah jatuh cinta (sapa juga yang jatuh cinta menemukan cowok ganteng dan body yahud gitu tergeletak di tepi pantai). Dan ternyata cowok ganteng itu masih hidup.. Wajar aja kalo Isolde jatuh cintrong ama si Tristong itu (weiks, kow jadi berpantun ria ginih.. hehe).

Kisahcinta1 Singkat kata singkat cerita, Isolde ngerawat luka Tristan yang tadi kena sabetan golok beracun-nya Wiro Sableng (wakakaka, koq jadi ngaco ginih…). Waktu perkenalan pertama, Isolde ngga ngaku nama sebenernya dan pake nama samaran. Tapi who care, akhirnya Tristan sembuh dan jatuh cintrong juga sama Isolde. Ya, layaknya film-film orang barat lah, kisah cinta mereka divisualisasikan dengan ciuman dan adegan bercinta (deg-degan juga nich gue waktu nonton adegan ini, kekeke).

Adegan percintaan itu begitu serunya, sampe akhirnya harus terhenti ketika kabar tentang ketidaksusesan misi pasukan Irlandia ke Cornwall untuk mendapatkan tawanan tercium oleh sang Raja dari Irlandia ini. Akhirnya dengan berat hati Tristan harus meninggalkan Irlandia dan tentunya meninggalkan Isolde (duuh sedihnya). At_d_beach1Waktu perpisahan di tepi pantai itu, Isolde bilang sama Tristan "I want to have somebody who is thinking about me all the times, and I can’t know that if they kill you". Duuh…. kata-kata itu membuat Tristan akhirnya memantapkan langkah  untuk kembali ke tanah Inggris.

Tristan tiba dengan selamat di tanah Inggris. ‘Kebangkitan’ Tristan ini disambut dengan riang ama penduduk Cornwall, tapi tidak bagi Melot yang iri banget sama Tristan karena King Marke menobatkan Tristan menjadi ‘the second’ setelah King Marke. Sejatinya, kalo King Marke mati, tentunya Tristan lah yang menjadi penggantinya.

Begitulah ceritanya, sampe ada berita tentang sayembara dari kerajaan Irish. Hadiahnya -layaknya sayembara jaman kerajaan getu- adalah sang putri, yaitu Isolde. Banyak banget yang ikutan sayembara, ngga terkecuali kerajaan Cornwall. Tapi Tristan berlaga dalam sayembara itu on behalf of King Marke. Kenapa Tristan berbuat begitu? Karena dia ngga tau kalo Princess Isolde adalah putri cantik yang ia temui di pantai waktu ia terdampar di Irlandia. Ditambah lagi, waktu itu dia kaga napsu untuk mendapatkan seorang Princess, hatinya udah kadung tertambat hanya untuk cewek yang dia temui di pantai waktu itu.

Well, namanya juga jagoan, udah tau dong siapa yang menang.. Tristan, lah. Princess Isolde girang banget waktu diumumin kalo pemenangnya adalah Tristan. Isolde langsung teriak dan berkata : "Yes, I am yours.." dan membuka kudung penutup wajahnya. Tapi apa daya.. ternyata Tristan berlaga atas nama King Marke, dan yang berhak atas itu adalah King Marke.

Gubraaaaaaaakkk…. sedih banget ngga seeh?? Udah di depan mata, eh harus hilang begitu saja.. duh, sumpe dech.. kebayang ngga sich gimana perasaan Triston dan Isolde? Cinta mereka harus terhenti karena Isolde harus menikahi King Marke dan menjadi Queen of Cornwall.

Kisahcinta3 Tapi ternyata cinta mereka ngga terhenti disitu aja, saudara-saudara. Isolde ngasih sinyal ke Tristan kalo mereka bisa ketemu tiap wednesday di tepi sungai deket gerbang kuno peninggalan Roma (nih liat foto mereka di gerbang itu). Wah, cerita mereka berawal lagi dech… kissing.. bercinta.. makanya kisah ini menjadi kisah ’segitiga cinta’, kalo Frente bilang ‘Bizzare Love Triangle’. Gue masih inget dialog Tristan & Isolde waktu mereka ML lagi:

Isolde: "How many loves do you have before me?", Tristan: "none", Isolde:"And how many loves do you have after me?", Tristan "none"… u l a la… beruntung banget sich ni Princess..

Cuman, ngga ada yang sejati dari sebuah perselingkuhan. Kisah cinta mereka diketahui ama King Marke. Karena marah, Tristan dihukum penjara. AKhirnya Isolde mengakui bahwa sebenernya Isolde dan Tristan udah jatuh cintrong jauh sebelum dia kenal ama King Marke. King Marke pun luluh dan mengampuni keduanya.

Duh, ceritanya panjang banget, ampe cape nih nulisnya.. hehe.. In the end aja kali yee, pasukan Irish menyerang kerajaan Cornwall lagi. Dan kali ini Tristan ngga luput dari maut. Dia tertembus pedang waktu menyelamatkan benteng Cornwall. Duuh.. sedih banget…..

Pas mau menghembuskan nafas terakhirnya, Tristan minta dibawa ke tepi sungai tempat dia biasa memadu kasih dengan Isolde. Akhirnya, dengan diiringi tangis, Tristan pergi -meninggalkan Isolde untuk selama-lamanya. Duuh… kebayang ngga sich gimana perasaan Isolde?? To be honest, gue sempet menitikkan air mata. Kalo aja ngga ada Patrjcya dan Bisma yang saat itu duduk di sebelah gue, mungkin gue udah nangis cara dayak kali. I hate sad-ending movie…

Well, tapi ini versi film. Pas gue liat versi legendanya, ternyata sedikit berbeda. DI versi legenda, Tristan digambarkan sebagai salah seorang Knights Inggris, makanya dia dijuluki dengan sebutan Sir Tristan of Armenye (not Aragon). Ngga tau si Kevin Reynolds (Director) dan Dean Georgaris (Writer) mendapatkan surname Tristan dari mana ya? Yang gue baca sich, surname Tristan sih ’son of Armenye’. Well, asumsi gue, biar enak disebutnya aja kale.. namanya aja Film untuk komersial. Kebayang ngga kalo disebut Tristan of Armenye, nyebutnya aja udah ribet gituh.. hehe.. Mangkanya jadi diplesetin ama Tristan of Aragon. Tapi terus terang kow gue jadi keingetan ama Aragon-nya nya Lord of The Ring ya? Waktu nonton film itu, gue mikir, apa ada kaitannya ama si Aragon itu? hehe…

Weits, pokoke film ini seru dech.. Dan lebih serunya lagi, karena gue nontonnya pas kelar ngerjain assignment, jadinya gue bener2 bisa menikmati banget nonton film yang tiketnya seharga 3,5 pounds itu (maklum, dapat student discount neeh…hehe).

Ohya, maap nich buat yang belum nonton.. jadi ngga kepengen nonton yach… sapa suruh baca blog gue dari awal ampe abis… kekeke.. tapi, biarpun begitu, ngga ada salahnya koq nonton film ini. Soalnya temen nonton gue -Patrjcya(dia dari Poland)- bilang kalo waktu dia SD , kisah cinta Tristan dan Isolde ini menjadi bahan bacaan wajib buat anak SD. Waktu gue ceritain hal ini ke Virdi, Virdi langsung nyeletuk .. "Ooo… mungkin kalo di Indo sama ama cerita Sankuriang atau Tangkuban Perahu kali yee". Well, kaga kayak gitu kali yee.. tapi mungkin esensinya sama, "cinta terlarang". Sejatinya, sangkuriang mengisahkan cinta terlarang antara emak dan anak, sedangkan Tristan dan Isolde adalah cerita terlarang antara ponakan dan tante (bininya Om).. hehe..

Duh, udah ah tangan gue udah pegel nich… Buat yang belum nonton, tonton dech.. kalo mo liat thrillernya, ini gue kasih link-nya .. http://www.imdb.com/title/tt0375154/

Met nonton yach….

London Indonesian Film Screening

Tuesday, March 14th, 2006

100_3762 Hari Sabtu dan Minggu (11-12 Maret 2006) lalu ada sebuah event yang cukup menarik di London. Namanya London Film Screening. Dalam film itu, ditampilkan beberapa film Indonesia karya sineas besar, seperti Riri Riza, Mira Lesmana, Lola Amaria, de el el.. Deretan film yang ditayangkan juga film-film berkualitas yang sudah ditampilkan di berbagai festival dunia, seperti Gie, Daun di atas Bantal, Arisan, Kuldesak, dan Novel tanpa huruf R. Dan yang paling menarik, pasukan sineas tersebut diboyong ke London dalam rangka Tour de UK. Nicolas Saputra, Mira Lesmana dan Riri Riza meramaikan Tour de UK dalam rangka film screening tersebut.

Hasil pengamatan saya dari penyelenggaraan event tersebut adalah masih tingginya minat orang luar -terutama masyarakat London- terhadap dunia perfilman Indonesia. Selama tiga hari penyelenggaraannya di SOAS (School of Oriental and African Studies), lecture theathres tempat ditayangkannya film-film tersebut cukup diramaikan oleh para penikmat film, yang kebanyakan kaum bule. Sebagai partisipan, saya cukup salut dengan kegigihan panitia yang telah bekerja keras untuk menyuguhkan sebuah event yang sungguh membanggakan ini.

Ada satu orang bule yang duduk disebelah saya waktu pemutaran novel tanpa huruf R, dia sangat antusias dengan film Indonesia karena -katanya- film Indonesia cukup complicated dan sangat menantang. Dari segi sinematografi, terlihat betapa sineas Indonesia cukup menguasai tekhnologi di bidang perfilman dan sangat mementingkan dari segi artistik. Engel-engel dan snapshot yang disuguhkan dalam film-film Indonesia yang ditayangkan hari itu memang terbilang istimewa. Saya sendiri kagum dengan ‘kebisaan’ anak muda Indonesia yang udah memproduksi film yang sangat artistik. Artistik dari segi alur cerita, pengambilan gambar, dialog, dan musik.

Namun, terkadang ada saja yang terlupa -ya, walau saya menganggapnya itu sebagai hal yang manusiawi. Terkadang film Indonesia lebih cenderung menonjolkan sisi complicated sehingga melupakan bagaimana reaksi penonton setelah menonton film tersebut. Karena terus terang ngga gampang menterjemahkan film yang -katanya- bermutu tersebut ke dalam bahasa keseharian. Buat segelintir orang yang ‘cerdas’ tentunya akan menyikapinya dengan perasaan yang luar biasa. Namun buat orang yang ‘malas’ untuk berpikir yang too complicated, pada akhir pemutaran film, mereka akan berseloroh .."duh, film ini apaan sich maksudnya? kaga ngarti gua.."

Ya, walau Riri Riza bilang "let the audience translated" tetapi kalo pesan yang hendak disampaikan si pembuat film terhadap filmnya ngga sampai, berarti si sineas itu gagal dong untuk menyampaikan pesannya. Ya, itu cuman analogi sempit aja. Memang ngga semuanya harus diartikan secara harafiah -walau keterbatasan akal juga mempengaruhi penilaian terhadap sesuatu.

Kemudian, ada satu lagi yang mungkin terlewatkan oleh sineas tersebut. Detail film tersebut. Sebagai contoh, dalam menggambarkan sosok Soe Hok Gie yang gemar naik gunung, dalam film tersebut tidak begitu ditonjolkan profil seorang ‘pencinta alam’ dalam diri Gie. Sebagai salah seorang pencinta alam, saya cukup tergelitik saat menit-menit terakhir dimana digambarkan Gie pergi ke Gunung Semeru dan menemui ajalnya disana karena menghirup gas beracun di Semeru. Naluri saya sebagai pencinta alam adalah Semeru itu adalah gunung yang cukup tinggi. Dan untuk mencapai Semeru, dibutuhkan waktu yang cukup lama serta persiapan perbekalan yang cukup heboh. Itu ditandai dengan besarnya back pack yang biasanya dibawa oleh climber untuk mencapai Semeru. Namun dalam film tersebut, Gie hanya digambarkan membawa tas kecil dan baju yang tidak menggambarkan profil seorang climber. Buat saya, scene tersebut kurang masuk akal jika si sineas ingin menggambarkan adegan Gie sedang ke gunung Semeru. Saya sendiri agak surprais dengan adegan tersebut, yang ternyata menggambarkan Gie benar-benar sedang berada di Gunung Semeru. Hal ini sempat saya tanyakan sama Nico, apakah benar syutingnya di gunung beneran.. dan ternyata memang di gunung beneran. 100_3765_3

Well, memang tidak ada yang sempurna.. seperti kata Mbak Mira -waktu saya tanya apakah para pembuat film Gie tersebut puas atau tidak dengan hasil yang mereka produksi- bahwa tidak ada kepuasan yang abadi, yang ada hanyalah kepuasaan sesaat yang memacu kita untuk terus menyuguhkan yang terbaik. Kelemahan yang kita buat hari ini harus bisa menjadi ‘lecutan’ bagi karya-karya selanjutnya. Tentunya saya sangat menghargai jerih payah Mbak Mira, Mas Riri Riza, dan tentu saja Nicolas Saputra yang telah bekerja keras untuk menyuguhkan yang terbaik untuk audiens.

Bravo untuk perfilman Indonesia.

Bravo untuk panitia LIFS.

Bravo untuk Citra, Tika, Mbak Eni, Djatu, Mas Dedy, Ozzy, dan tentu saja teman seperjuangan saya -Bisma- yang telah menemani selama di London.

100_3779_1

Platform 9 3/4

Sunday, February 12th, 2006

Platform 9 3/4 .. a famous hidden place towards Hogwarts in Harry Potter. Here, you can look around the wizardry world and find out about the ways in which to travel.

"All you have to do is walk straight at the barrier between platforms nine and ten. Don’t stop and don’t be scared you’ll crash into it, that’s very important. Best do it at a bit of a run if you’re nervous. Go on, go now…"

In order to catch the Hogwarts Express train to Hogwarts, students must board at Platform Nine and Three Quarters at Kings Cross Station. This Platform is not visible to Muggles. In fact, you get to it by running toward the solid barrier between Platforms Nine and Ten, full tilt. Instead of hitting the wall, you’ll find yourself passing under a wrought iron sign that says "Platform Nine and Three Quarters." A guard sits there, monitoring the comings and goings through the portal, making sure that too many people don’t do it at the same time and alarm the Muggles. On days when the train is set to leave for Hogwarts, the Platform is filled with Witches and Wizards saying good bye to their children. Cats and owls are a common sight among the crowd.

…..

This platform is quite interesting for a fanatic fan of Harry Potter, like me :-)
It’s great finding this memorabilia in Kings Cross Station, London..
When I pull my chart towards the platform.. there I go.. Harry Potter’s world..