Menyikapi Perubahan

Banyak orang bertanya kepada saya, mengapa sepulang saya dari Inggris banyak hal yang berubah dari diri saya. Mulai dari cara bicara, cara berpikir, sampai dengan penampilan saya.

Sebagai diri pribadi yang menjalani, terus terang saya tidak bisa menjawabnya secara lugas dan tepat. Kenapa? Karena saya tidak merasa ada perubahan yang berarti dalam diri saya.

Menurut saya, saya masih seperti ini, masih seperti saya yang dikenal teman-teman saya setahun yang lalu. Saya yang menjalani kehidupan yang simple, ceplas ceplos dan selalu berusaha untuk open minded. Itu yang bisa saya gambarkan tentang diri saya; diri saya yang dulu sampai sekarang.

Lalu kenapa orang memandang terjadi perubahan dalam diri saya?

Kalau sejenak saya berpikir dan merenungi tentang diri dan kehidupan, memang saya menyadari ternyata ada perubahan dalam diri saya. Saya sendiri tidak tahu apa yang membentuk dan membuat perubahan itu.

Kecurigaan saya adalah karena saya memakai prinsip biarkan air mengalir dalam kehidupan saya. Proses pembelajaran dalam hidup saya anggap sebagai sebuah proses pendewasaan dan proses pencarian hakikat hidup itu sendiri. Pengalaman kesendirian selama setahun mau tidak mau telah menempa saya untuk bisa survive dan diterima di lingkungan saya yang baru, pada saat itu. Saya merasa menjadi lebih dewasa dalam bersikap dan bertindak. Saya juga lebih menggunakan pola pikir yang jauh ke depan dalam segala hal, baik dalam hal berteman sampai terkait dengan kondisi finansial. Pertimbangan dan pemikiran seperti itu mungkin membuat saya merasa tertempa untuk lebih bersikap dewasa dan bijaksana.

Pola pikir yang open minded dan cenderung liberal dengan sendirinya juga terinfiltrasi ke dalam cara berpikir saya seperti sekarang ini. Mencermati secara objektif permasalahan dan gejala yang ada di sekeliling saya adalah hal yang harus saya lakukan jika ingin bisa tune in dalam kesendirian dan perjuangan saya saat itu. Dan memang saya tidak pernah punya masalah dengan berpikiran terbuka tersebut.

Saya menghargai segala bentuk perbedaan dan perubahan, baik itu ditinjau dari perspektif ideologi ataupun agama. Saya menghargai berbagai bentuk opini yang ada. Bagi saya, timbulnya berbagai opini merupakan benih dari sebuah proses komunikasi yang sehat. Tuhan menganugerahi umatNya dengan sebuah mesin otak yang dapat dioptimalkan untuk menjawab rahasia-rahasia alam yang ditinggalkan oleh Tuhan. Bentuk perbedaan tersebut dapat dijadikan sebuah jembatan dalam proses mencari jawaban atas rahasia2 tersebut.

Sejauh mana kita bisa menyikapi bentuk perbedaan dan perubahan?

Semua tergantung dari sudut mana kita melihat. Pro dan kontra terhadap sebuah sikap dan kebijakan selalu terjadi. Bahkan dalam sebuah teori pengambilan keputusan akan selalu ada trade off serta kondisi dimana kita tidak bisa memuaskan semua pihak.

Untuk itu, perubahan dan perbedaan harus disikapi secara menyeluruh dan bijak. Kita bisa melihat proses perubahan pada diri Aa Gym yang berubah pandangan tentang poligami. Kalau sebelumnya beliau sepertinya emoh ber-poligami, tapi sekarang malah beliau menjadi pelaku poligami. Tentunya proses untuk perubahan tersebut harus kita hormati dan hargai sebagai salah satu bentuk proses pembelajaran bagi diri Aa, keluarga Aa, dan kita semua.

Proses perubahan bisa menjadi positif dan destruktif. Saya tidak bisa mencap proses perubahan sikap Aa dari yang semula ‘berpikir-pikir’ untuk poligami sebagai proses perubahan yang destruktif. Itu merupakan hak prerogatif Aa dan juga keluarga Aa. Tentunya semua keputusan telah berdasarkan pertimbangan yang matang, baik dari segi the best case maupun dari sisi the worst case.

Begitulah, perubahan tidak akan bisa memuaskan semua pihak. Selalu ada trade off dibalik perubahan yang terjadi. Hal ini sebuah proses yang alamiah sehingga harus disikapi secara bijaksana dan legowo.

So, bila saya berubah, bila Aa Gym berubah, bukan berarti kami mengenyampingkan rambu-rambu sosial dan stigma di masyarakat. Kami hanya berkaca pada pengalaman, dan berangkat dari kesadaran akan keharusan untuk dapat lebih baik dari hari kemarin. Semoga perubahan yang terjadi bisa menjadi positif dan tidak bersifat destruktif.

Walaupun demikian, kami memang tidak bisa memuaskan semua pihak. Itulah salah satu trade off yang harus kami hadapi …..

One Response to “Menyikapi Perubahan”

  1. Sir Danang Says:

    sekali lagi… be inspired! trima kasih Mbak Nenny. ^^

Leave a Reply