January 09, 2007

What Am I to Everyone?

Kalo boleh meminjam petikannya judul Norah Jones, gue kini sedang dalam proses mencari jati diri dengan bertanya pada diri sendiri.. what am I to everyone?

Siapa sich gue? Apa sih kontribusi gue tuk semua orang?

KElihatan sedikit narsis or absurd, ga jelas juga. Yang pasti, cuma satu yang ada di benak gue, apa iya gue berguna untuk orang lain?

Beberapa teman dan sahabat "mengiyakan". Ada yang bilang, gue sangat berguna untuk anak-anak gue, keluarga gue, dan orang terdekat gue. Ada juga yang bilang, gue sudah memberikan motivasi bagi orang lain karena gue selalu berupaya memberikan "penampakan" yang positif dan smart di hadapan orang. Ada juga yang bilang kalo gue memiliki jiwa sosial yang tinggi; yang ngga tegaan melihat anak kecil yang ngamen di lampu merah tanah abang, atau yang ngga tegaan melihat bapak-bapak yang jualan sambil narik gerobak. Kalo gue bisa melihat sisi positidf gue dari sisi ini, gue bisa berkesimpulan kalo gue berguna untuk keluarga, teman, bahkan komuniti.

Tapi kenapa gue selalu merasa itu tidak membantu gue untuk meyakinkan diri gue bahwa I mean something to the world.

Memang, kalo kata iklan simpati jitu di Hard rock FM, "hidup itu pilihan". Pilihan yang saat ini sedang gue jalani banyak cabangnya. Ibarat gue sedang berada di sebuah labirin, gue harus pandai menentukan lorong mana yang akan gue lalui untuk bisa mencapai pintu keluar labirin.

Gue tidak bisa mengakali hidup, gue harus memilih jalan hidup gue.

Seorang teman menasehati, yang membuat gue berada di labirin adalah diri gue sendiri. Gue yang selalu membuat semua complicated, dengan memilih jalan hidup gue seperti ini. Gue tidak bisa tegas dalam bertindak dan menyikapi sesuatu. Gue cenderung terlena dan bahkan kekurangan akal dalam menjalaninya. Dan karena itu, gue merasa diri gue dirongrong oleh kekalutan akan keberadaan diri dan kebergunaan diri gue di mata orang lain.

COmplicated memang. Tapi begitulah adanya gue. Yang saat ini berada di sebuah labirin. Berusaha untuk keluar dari kebingungan dan kepekatan cobaan hidup yang tengah gue hadapi.

Sebenarnya, gue sudah memiliki jalan hidup yang ada. Tapi rupanya gue kurang puas dengan yang telah digariskan, gue mencoba menentang jalan hidup itu dengan sebuah tantangan labirin yang unpredictable. Ya, gue baru sadar kalo gue ternyata sangat complicated dengan segala pesona dan kapasitas yang gue miliki.

Jadi kalo gue sekarang bertanya pada diri gue lagi, what am I to everyone? gue cuman bisa berteriak sambil memicingkan mata gue.. im nothing.

god, please help me..

                            

Kebingungan Seorang Perempuan

Seandainya ia bisa melihat

Seandainya ia bisa merasai

Seandainya ia bisa membuka hati dan mata

Seandainya ia bisa memikir secara jernih

tentang apa yang tengah dijalani dan menyiksanya

mungkin ia bisa terlepas dari rasa kebingungan yang membingungkan

mungkin ia bisa menghindar dari rasa kebingungan

atau

mungkin ia bisa keluar dengan mata terbuka

mungkin ia bisa melangkah dengan senyum mengembang

tapi,

pekatnya alam yang menghilangkan adam air awal tahun ini

tak tertandingi dengan pekatnya awan mendung di lingkaran mata perempuan itu

keletihan yang teramat sangat menapaki dunia dan permasalahnnya

membuat raut wajah ayu yang dulu menggurat di wajahnya terkikis

kehangatan yang terpancar dari penampakan aura nya sedikit demi sedikit memupus

kini

si perempuan berusaha mengecap sebuah asa

berupaya menghilangkan jejak keletihan

berupaya menghangatkan diri dengan kesahajaan

berupaya mengenali dan menerima pahit dan manisnya dunia

dalam sebuah kembaraan yang tak kunjung usai

December 18, 2006

A day without a smile

Have you ever experienced with a lousy day without a single smile? Maybe you can smile, but it's so bitter.

When you had this circumstances, you might ever wanna turn your head to the wall or even a glismpse of killing yourself.

A smile is worthed to begin and to end a day. It is so worthed, at least for me.

Even a smile can conquer the rocky mountain, that's what the wiseman said. A smile can give a warning.. of happiness or sadness.. that's why a smile can mean everything.

If you try to search upon the sky, where is the best smile ever in the world.. answers are flying according to the message. I might end up with the answer of my angels' smile which are the best smile ever.

My angels..

Today I miss their smile.

Today I miss their kiss.

Today I miss their love.

Hopefully it's not too late to get the smile again, tomorrow

December 11, 2006

Poligami Dalam Pandangan Isteri Kedua

Akhir-akhir ini gosip miring tentang pernikahan kedua Aa Gym seakan menjadi jualan laris di stasiun tivi maupun tabloid gosip. Kebanyakan mencemooh, menyesali, bahkan tak segan-segan menghujat keputusan Aa untuk menikah lagi. Namun, ada pula yang mendukung sikap Aa, terutama dari kaum lelaki agamis yang berpegang teguh pada ketentuan agama.

Para ibu ada yang simpati dan ada yang empati pada Teh Ninih, sang isteri pertama. Mereka memuji sikap Teh Ninih yang begitu tegar dalam menghadapi cobaan ini. Sebagai wanita normal, tentunya perasaan Teh Ninih bagaikan dicabik-cabik kala menyadari harus berbagi kebahagiaan di hati Teh Ninih. Kita juga bisa melihat di tivi, walaupun teh Ninih kelihatan tegar, tapi terlihat semburat keletihan dan kekecewaan dari wajahnya.

Itu ekspresi dari Isteri Pertama. Lalu bagaimana dengan Teh Rini, sang isteri kedua?

Sepanjang liputan infotainment, hanya ditampilkan foto Teh Rini saja dan sesekali kilasan gambar Teh Rini saat menghadiri acara bersama dengan Aa dan Teh Ninih. Teh Rini hanya bisa tertunduk sambil sesekali membetulkan jilbabnya. Walaupun dalam posisi tertunduk, kita masih bisa melihat raut muka cantik Teh Rini. Maklum, Teh Rini dikabarkan sebagai mantan model.

Tentunya banyak yang mencemooh Teh Rini, walau ada pula yang memuji Teh Rini. Teh RIni dipandang sebagian orang sebagai duri dalam daging, dan akan membuat popularitas Aa akan terenggut.

Jika saya membayangkan posisi saya saat ini sebagai Teh Rini, saya sepertinya angkat topi. Betapa berat ujian dan cobaan yang harus dijalani Teh Rini.

Menjadi isteri kedua itu bukan sebuah keputusan yang mudah. Pertama, ia harus bisa mengalahkan egonya untuk membagi suaminya dengan isteri yang lain. Ini bukan hal yang mudah diterima seorang wanita. Setegar apapun seorang wanita, ia tidak akan rela pasangannya berbagi hati dengan wanita lain. Saya rasa, laki-laki juga akan seperti itu. Mereka tidak akan rela jika pasangannya berbagi hati dengan laki-laki lain. Itu sangat manusiawi sehingga bisa terjadi pada laki-laki maupun wanita.

Kerelaan membagi 'suami' tersebut harus dari segala hal, baik materi maupun imateri. Secara materi, jika suami hanya beristrikan satu orang, otomatis semua harta suami akan dikelola oleh satu isteri. Tetapi, jika sang suami memiliki dua isteri, otomatis kue penghasilan harus dibagi dua secara adil. Pengertian adil itu sendiri harus bisa didefinisikan secara benar agar tidak menimbulkan suasana kecemburuan dari semua pihak.

Kecenderungan yang terjadi di masyarakat awam, isteri pertama akan mendapatkan porsi yang "lebih" dibanding dengan isteri kedua. Sebagian komuniti menganggap wajar karena si isteri tua harus rela berbagi dengan isteri pertama. Tetapi, pada dasarnya, sang isteri kedua juga memiliki harapan-harapan dalam hidupnya. Namun, karena dia ditakdirkan untuk jadi isteri kedua, banyak pengorbanan yang harus dilakukannya.

Selain yang bersifat materi, pengorbanan yang bersifat imateri juga harus dialami isteri kedua. Sang isteri kedua (sama hal nya dengan isteri pertama) tentu harus mengalami malam-malam sepi karena sang suami sedang berada di tempat isteri yang lain. Setegar apapun, sang isteri tetap memiliki naluri alamiah seorang wanita dan manusia yang juga memiliki keinginan batiniah. Di saat sang suami sedang bersama isteri yang lain, tentunya sang isteri kedua harus rela membagi tubuh suami nya untuk orang lain. Ini bukan ujian yang ringan.

Kedua, sang isteri kedua harus tebal telinga dengan berbagai cemooh dan omongan orang. Stigma yang diberikan di masyarakat adalah isteri kedua sebagai pengganggu rumah tangga, terlebih lagi jika proses pemilihan isteri kedua tersebut tidak melalui proses harmonisasi antara interested parties, baik isteri pertama, anak, dan keluarga besar lainnya. Untuk itu, resiko paling dekat yang dihadapi isteri kedua adalah harus tebal telinga dalam menghadapi berbagai macam cacian dari komuniti.

Ujian-ujian tadi tidak bisa dianggap remeh. Sehingga, keputusan menjadi isteri kedua juga merupakan sebuah keputusan yang berat, bahkan mungkin bisa dikatakan melebihi keputusan seorang wanita normal saat ingin dinikahi seorang pria.

Begitulah, pro dan kontra pernikahan kedua Aa gym sebaiknya jangan hanya dilihat dari sudut Aa saja. Sebagai laki-laki -katanya- sudah kodrat mereka untuk ingin memiliki pasangan lebih dari satu. Tetapi, bagaimana dengan wanita? Kodrat wanita -katanya lagi- sebagai pendamping bagi laki-laki.

Namun, satu hal yang membuat saya berpikir. Hubungan antara isteri dan suami ibarat pakaian. Isteri adalah pakaian bagi suaminya, begitu pula sebaliknya, suami adalah pakaian bagi isteri. Namun betapa sedihnya apabila pakaian itu harus disobek dan dibagi dua. Hanya ikhlas lah yang bisa mengantarkan seorang wanita untuk bisa merelakan pakaiannya dirobek dan diberikan kepada wanita yang lain. Dan hanya wanita yang ikhlas saja lah yang rela menerima pakaian robek tadi.

Mudah-mudahan pakaian yang robek tadi bisa ditambal dengan kebijakan dan keadilan sang suami. Sehingga, pakaian yang robek tadi tidak menjadi tambah lebar robeknya.

Menyikapi Perubahan

Banyak orang bertanya kepada saya, mengapa sepulang saya dari Inggris banyak hal yang berubah dari diri saya. Mulai dari cara bicara, cara berpikir, sampai dengan penampilan saya.

Sebagai diri pribadi yang menjalani, terus terang saya tidak bisa menjawabnya secara lugas dan tepat. Kenapa? Karena saya tidak merasa ada perubahan yang berarti dalam diri saya.

Menurut saya, saya masih seperti ini, masih seperti saya yang dikenal teman-teman saya setahun yang lalu. Saya yang menjalani kehidupan yang simple, ceplas ceplos dan selalu berusaha untuk open minded. Itu yang bisa saya gambarkan tentang diri saya; diri saya yang dulu sampai sekarang.

Lalu kenapa orang memandang terjadi perubahan dalam diri saya?

Kalau sejenak saya berpikir dan merenungi tentang diri dan kehidupan, memang saya menyadari ternyata ada perubahan dalam diri saya. Saya sendiri tidak tahu apa yang membentuk dan membuat perubahan itu.

Kecurigaan saya adalah karena saya memakai prinsip biarkan air mengalir dalam kehidupan saya. Proses pembelajaran dalam hidup saya anggap sebagai sebuah proses pendewasaan dan proses pencarian hakikat hidup itu sendiri. Pengalaman kesendirian selama setahun mau tidak mau telah menempa saya untuk bisa survive dan diterima di lingkungan saya yang baru, pada saat itu. Saya merasa menjadi lebih dewasa dalam bersikap dan bertindak. Saya juga lebih menggunakan pola pikir yang jauh ke depan dalam segala hal, baik dalam hal berteman sampai terkait dengan kondisi finansial. Pertimbangan dan pemikiran seperti itu mungkin membuat saya merasa tertempa untuk lebih bersikap dewasa dan bijaksana.

Pola pikir yang open minded dan cenderung liberal dengan sendirinya juga terinfiltrasi ke dalam cara berpikir saya seperti sekarang ini. Mencermati secara objektif permasalahan dan gejala yang ada di sekeliling saya adalah hal yang harus saya lakukan jika ingin bisa tune in dalam kesendirian dan perjuangan saya saat itu. Dan memang saya tidak pernah punya masalah dengan berpikiran terbuka tersebut.

Saya menghargai segala bentuk perbedaan dan perubahan, baik itu ditinjau dari perspektif ideologi ataupun agama. Saya menghargai berbagai bentuk opini yang ada. Bagi saya, timbulnya berbagai opini merupakan benih dari sebuah proses komunikasi yang sehat. Tuhan menganugerahi umatNya dengan sebuah mesin otak yang dapat dioptimalkan untuk menjawab rahasia-rahasia alam yang ditinggalkan oleh Tuhan. Bentuk perbedaan tersebut dapat dijadikan sebuah jembatan dalam proses mencari jawaban atas rahasia2 tersebut.

Sejauh mana kita bisa menyikapi bentuk perbedaan dan perubahan?

Semua tergantung dari sudut mana kita melihat. Pro dan kontra terhadap sebuah sikap dan kebijakan selalu terjadi. Bahkan dalam sebuah teori pengambilan keputusan akan selalu ada trade off serta kondisi dimana kita tidak bisa memuaskan semua pihak.

Untuk itu, perubahan dan perbedaan harus disikapi secara menyeluruh dan bijak. Kita bisa melihat proses perubahan pada diri Aa Gym yang berubah pandangan tentang poligami. Kalau sebelumnya beliau sepertinya emoh ber-poligami, tapi sekarang malah beliau menjadi pelaku poligami. Tentunya proses untuk perubahan tersebut harus kita hormati dan hargai sebagai salah satu bentuk proses pembelajaran bagi diri Aa, keluarga Aa, dan kita semua.

Proses perubahan bisa menjadi positif dan destruktif. Saya tidak bisa mencap proses perubahan sikap Aa dari yang semula 'berpikir-pikir' untuk poligami sebagai proses perubahan yang destruktif. Itu merupakan hak prerogatif Aa dan juga keluarga Aa. Tentunya semua keputusan telah berdasarkan pertimbangan yang matang, baik dari segi the best case maupun dari sisi the worst case.

Begitulah, perubahan tidak akan bisa memuaskan semua pihak. Selalu ada trade off dibalik perubahan yang terjadi. Hal ini sebuah proses yang alamiah sehingga harus disikapi secara bijaksana dan legowo.

So, bila saya berubah, bila Aa Gym berubah, bukan berarti kami mengenyampingkan rambu-rambu sosial dan stigma di masyarakat. Kami hanya berkaca pada pengalaman, dan berangkat dari kesadaran akan keharusan untuk dapat lebih baik dari hari kemarin. Semoga perubahan yang terjadi bisa menjadi positif dan tidak bersifat destruktif.

Walaupun demikian, kami memang tidak bisa memuaskan semua pihak. Itulah salah satu trade off yang harus kami hadapi .....

November 18, 2006

Kemiskinan Itu Dekat

Sebenarnya kalo kita mau membuka mata dan hati, kita akan terpojokkan dengan sebuah situasi bahwa kemiskinan itu dekat, bahkan sangat dekat.

Sejak kita membuka mata, kita akan melihat kehadiran pembantu di rumah kita. Melayani, mengopeni, dan melakukan apa saja yang kita perintahkan. Kenapa mereka mau? Karena mereka miskin dan mereka butuh uang untuk menghidupi diri mereka dan keluarga mereka. Bahkan, dibayar dengan gaji dibawah UMR pun akan mereka lakoni agar mereka bisa keluar dari kemiskinan mereka.

Kemudian saat kita berangkat ke kantor, kita kembali dihadapkan dengan fakta kemiskinan. Betapa banyak anak-anak dan para pengemis yang sudah stand by di sepanjang perempatan lampu merah. Para joki yang siap menemani pengendara yang akan melewati sudirman-thamrin. Atau, para pedagang kaki lima yang sedang siap2 menjajakan dagangannya.

Mereka miskin dengan kondisi dan kesempatan yang ada pada mereka. Mereka mau berusaha dan keluar dari kemiskinan mereka.

Lalu pertanyaannya, apakah yang bisa kita lakukan untuk orang-orang miskin seperti itu? Orang miskin yang mau berusaha.

Kalo saya jadi Presiden, saya mungkin akan lebih banyak menyamar dan naik bus atau kereta. Jadi, saya tau penderitaan orang miskin.

Itu kalo jadi presiden, tapi karena sekarang belum jadi Presiden, ya tetep naik mobil ke kantor.. hahaha

August 29, 2006

Arti Sebuah Kebersamaan

Ngga terasa waktu berjalan begitu cepat. Hampir setahun aku sudah di UK. It's time to go back. Gank_of_fiveFacing the reality and meeting the old friends. Meninggalkan semua cerita di UK, meninggalkan teman2 tercinta selama di UK. Teman-teman yang selalu menghiasi hari-hari kelabu gue. Tema n2 yang selalu ada di samping gue kalo gue butuh.

Besnik, Marina, Mariella, Christiana, Mellisa..they are my best mates ever from Kosovo, Bolivia, Peru, Jerman, and Venezuella.

Minggu kemarin, Besnik sudah lebih dulu meninggalkan kami. Dia harus pulang ke Kosovo dan mungkin baru akan kembali pas graduation nanti.

Besnik adalah sahabat yang kami sayangi. Aku, Marina, Mariella, Christiana, dan Mellisa adalah thBesnik_chris_mariellae Besnik's girls. Kami sudah sahabatan sejak awal kami masuk di IDD. Banyak suka, cerita, duka sudah kami alami sama-sama. Kini Besnik telah pergi ke negara nya. Sebentar lagi, my lovely Chris and Marina juga akan pergi. Oh God, ngga tau perasaan aku jadi ngga keruan gini. Serasa ada sesuatu yang missing yang ngga mungkin bisa terdeskripsikan. Mereka sudah seperti jadi bagian dalam diri aku dan sekarang semua nya dicabut dari aku. Entah kapan aku bisa bersama-sama mereka lagi.

Kebersamaan dan persahabatan dengan mereka ngga ternilai dengan apapun.With_besnik Jadi, walau pun Kosovo, Peru, Venezuella, Bolivia, Jerman dan Indonesia sangat berbeda kultur, bahasa dan jarak, tapi kebersamaan itu tetap ada dan akan selalu ada. Kebersamaan yang akan selalu membawa kenangan akan indahnya menjalani hari-hari di UK.

Selamat jalan sahabat-sahabatku..Me_christiana Hasta Luego, and till we meet again.... God Bless you all...

August 24, 2006

Oleh-oleh dari Budapest

Pic_0104 Cerita ini berawal dari lawatan saya beberapa waktu lalu ke Budapest, ibukota Hungary. Saya menyempatkan diri untuk meng-explore kota terindah di  Central Europe itu selama 2 minggu.

Budapest sangat indah. Dengan Danube river-nya. Dengan Buda var-nya. Dengan danau Balaton-nya. Dengan keramahan orang-orangnya.

Sebelum saya memutuskan diri untuk berlibur di Budapest, terbayang betapa angkuh Pic_0075 dan arogannya orang-orang Eropa Timur dengan stigma eks-negara komunis. Entah mungkin persepsi itu hasil dari propaganda Amerika yang sudah berhasil ditanamkan di benak saya, ataukah memang kenyataan nya seperti itu.

Tapi, alangkah terkejutnya saya melihat kenyataan yang sebenarnya. Budapest dan orang-orangnya sangat ramah. Walau mereka memang jarang tersenyum -itu mungkin sudah default mereka- tetapi perilaku mereka tidak se-angker propaganda Amerika tadi.

Satu hal yang membuat saya kagum. Negara tersebut baru mulai menggeliat dari keterpurukan Uni Sovyet sekitar tahun 1997. Persis dengan tahun dimana krisis ekonomi yang menimpa Indonesia. Tapi, kemajuan yang sudah mereka raih sungguh ajaib. Banyak isu berredar tentang kemajuan Hungary dibanding dengan negara-Pic_0072 negara eropa timur lainnya. Salah satu isu yang cukup santer adalah kehadiran jewish yang cukup dominan di negara itu. Dan kalau saya melihat dengan kepala sendiri, memang benar isu tersebut. George Soros sangat berperan di negara tersebut. Bahkan, di jantung kota Budapest, berdiri dengan megah Synagoge yahudi. Selidik punya selidik, bangsa hungaria memiliki keterikatan yang cukup dalam kepada bangsa yahudi. So, isu tersebut ternyata benar adanya.

Sejenak, saya ingat diskusi saya dengan teman serumah saya tadi malam. Betapa powerfulnya bangsa yahudi ini sehingga mereka seolah-olah menjadi 'invisible hand' dibalik kekuasaan yang ada di dunia. Lihat saja kejadian di Lebanon. Ngga ada satupun yang berani mengutuk dan memberi sanksi pada Israel. Kenapa? Karena semua orang sudah jadi bangsa yahudi, apalagi Amerika dan Inggris.

Tapi, sudahlah. Kembali ke Budapest.

Kota ini sebenarnya terdiri dari dua wilayah: Buda dan Pest. Kedua wilayah ini Pic_0029 dipisahkan oleh Danube river, dan ada sekitar 5 jembatan yang menghubungkan antara Buda dan Pest. Buda adalah wilayah yang lebih tenang dan lebih cantik. Di Buda ini lah terdapat tempat-tempat atraktif yang sangat membelakakkan mata. Buda Var, St Martin Church, Centinel.  Beberapa lokasi Bath and Spa juga banyak di sini. Ngga hearan banyak hotel-hotel disini. Sementara itu, Pest adalah pusat bisnis. Banyak kantor-kantor, pertokoan, dan klub malam di sepanjang Pest.

Buda dan Pest hidup dalam keteraturan mereka. Lokasi perumahan, pusat bisnis, bahkan pariwisata, sudah di set sedemikian rupa supaya tidak campur aduk. Ini juga Pic_0001 memudahkan dalam mengorganisir public transportasi. Di Buda dan Pest, selain transportasi reguler seperti bus dan metro (underground), mereka juga memiliki trem yang menghubungkan pusat-pusat strategis. Selama 2 minggu kunjungan saya disana, praktis saya sangat nyaman menikmati public transportation dan tidak pernah kepikiran untuk naik taksi.

Itulah, kenapa Jakarta tidak bisa mencontoh seperti itu ya? Hmm.. Mungkin Pak Sutiyoso sebaiknya harus study banding ke Budapest, daripada study banding ke Brasil beberapa waktu lalu untuk mempelajari sistem transportasi disana.

Gimana, Pak Sutiyoso.. nanti saya temenin kalo mau ke

Budapest

.. hehehe

August 19, 2006

Belajar Terbiasa Dengan Globalisasi

Group4_1

Kata-kata globalisasi tentunya bukan hal yang asing buat kita. Maknanya bisa luas; bisa mencakup hubungan politik internasional, perdagangan, ekonomi, komunikasi, sampai badan intelijen.

Buat saya, makna globalisasi tidak lain adalah pertukaran informasi. Dengan adanya globalisasi, kita jadi tahu apa yang terjadi di Libanon saat digempur pasukan Israel. Kita juga tahu bahwa ada busung lapar di Ethiopia dan negara-negara Afrika. Dengan globalisasi, kita juga bisa ikutan mengutuk Bill Clinton saat terlibat skandal dengan Monica Lewinski.

Itulah hebatnya globalisasi.

Kita bisa menikmati gurihnya KFC dan McDonald. Kita juga bisa dengan leluasa menelpon pacar dengan HP Nokia buatan Findland. Kita juga bisa dengan mudah berkomunikasi via Skype buatan Estonia untuk menghubungi teman dan sahabat kita yang ada di luar negeri. Selain itu, kita juga bisa jalan gaya dengan tas Gucci dan jam Benetton untuk berangkat kerja.

Itulah hebatnya globalisasi.

Banyak orang yang kagum dengan kecanggihan globalisasi. Banyak pula yang mengecam bahaya dibalik globalisasi. Bahaya akibat kapitalisme dan konsumerisme selalu diusung kaum penggugat globalisasi. 

Tapi, lagi-lagi, itulah hebatnya globalisasi.

Rasa ketakutan yang berlebihan bisa ditepiskan dengan serentetan keuntungan yang diberikan dalam globalisasi. Kemudahan komunikasi dan jaringan, pertumbuhan ekonomi, peningkatan lapangan kerja, pengentasan kemiskinan, sampai kepada akses ke lembaga peminjam internasional.

Namun, saya tidak mau beropini terhadap serentetan keuntungan tersebut. Selain udah basi dan terlalu sering diusung oleh orang lain, saya ingin memberikan sedikit wacana tentang globalisasi dari sudut pandang yang lain, yaitu mengenai pertukaran informasi.

Pertukaran informasi menjadi krusial agar kita bisa cope dengan lingkungan dan perubahan dunia yang demikian cepat. Bagaimana kita bisa dengan mudah beradaptasi dengan perubahan tersebut dan bisa berkompetisi dengan orang-orang dari negara lain?

Tentunya kita harus bisa menguasai alat komunikasi, yaitu melalui bahasa. Saat ini, dunia mengenal 6 jenis bahasa yang diakui secara internasional, yaitu bahasa inggris, perancis, jerman, china, spanyol, dan arab. Keenam bahasa asing ini diyakini sebagai bahasa internasional berdasarkan populasi yang menggunakan bahasa tersebut.

Kita kecilkan ke dalam bahasa inggris saja. Sejak saya TK sampai sekarang, pelajaran bahasa inggris sudah menjadi lalapan saya sehari-hari. Saya masih ingat betapa orang tua sangat menggembleng saya untuk bisa mahir berbahasa Inggris. Alasan mereka, kalo saya ingin maju dan bisa menembus dunia internasional, saya harus pintar bahasa inggris. Tentunya, buah ini saya petik sekarang. Saya bisa confidence cas cis cus berkomunikasi dengan orang lain di negara nya Prince William ini, karena saya dulu begitu menghayati pentingnya bahasa inggris ini.

Namun, seiring waktu dan jam terbang saya menembus dunia internasional, saya semakin ragu dengan ide globalisasi dari perspektif bahasa sebagai alat komunikasi global. Dalam beberapa kiprah saya di beberapa negara eropa -yang notabene dekat dengan negara Inggris- masih banyak masyarakatnya yang tidak mau dan tidak bisa bahasa inggris. Tak terkecuali dengan orang Perancis yang dulu terkenal anti dengan bahasa inggris. Kesulitan berkomunikasi juga kerap saya jumpai di negara-negara eropa timur, walau sebenarnya hal tersebut wajar aja karena mereka baru saja menggeliat dari rejim komunis pasca kejatuhan Uni Sovyet.

Bahkan, dalam kunjungan saya ke Markas PBB di Vienna beberapa Img_0002 waktu lalu, ada cerita bahwa bahasa inggris ternyata bukanlah menjadi bahasa pengantar dalam rapat pleno di PBB. Argumen yang diberikan adalah lebih kepada kenyamanan dan kepercayaan dalam berkomunikasi. Untuk itu, peran interpreter atau penerjemah sangat krusial untuk menjembatani language problem tersebut.

Dari sini saya kemudian mencoba mencari, apakah benar justifikasi ayah saya bahwa kalo saya ingin terjun ke dunia internasional saya harus pintar bahasa inggris?

Saya kemudian teringat dengan kejadian lucu dan cukup memalukan yang dialami Nadine, seorang putri cantik Indonesia yang diikutkan dalam acara Miss Universe 2006. Mungkin masih ramai dibicarakan di milis-milis betapa memalukanya seorang putri cantik Indonesia tidak bisa berkomunikasi secara lancar dalam bahasa Inggris di ajang internasional.

Tapi, lagi-lagi, Nadine bukanlah perempuan super. Dia memang cantik dan berbakat. Hanya saja kemampuan bahasa Inggris dia perlu diasah lagi kalau dia ingin lebih confidence dalam berbicara dalam bahasa asing.

Tapi Nadine juga tidak salah. Bahasa Inggris belum lah menjadi second language di Indonesia. Nadine mungkin tidak berkomunikasi secara aktif dalam bahasa inggris. Lain dengan Nadine-Nadine di Malaysia dan India yang menjadikan english sebagai second language mereka.

Melihat kenyataan Nadine ini, ada dua proposisi yang mungkin bisa ditarik. Pertama, jika Nadine aware, at least dia tidak perlu menceburkan diri dalam globalisasi bahasa yang dia sendiri tidak kuasai. Alangkah elegannya jika Nadine berani menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan dengan bahasa Indonesia-bahasa yang setiap hari diucapkan oleh 250 juta orang. Itu bukan suatu hal yang buruk dan memberikan penilaian yang sedikit buat Nadine. Karena, terbata-batanya Nadine dalam menjawab pertanyaan, membuat Nadine dan dunia pendidikan di Indonesia (terutama pendidikan Bahasa Inggris) menjadi tercemooh.

Kedua, jika Nadine aware untuk terjun ke dunia internasional, jangan lah setengah-setengah. Kesempatan selalu ada untuk bisa meng-up date kemampuan berbahasa asing agar bisa mampu berkompetisi di arus globalisasi bahasa tersebut. Proposisi kedua inilah yang dikenalkan ayah saya sehingga saya merasa confidence untuk melebarkan jaringan internasional saya.

Kesimpulannya, belajar terbiasa dengan globalisasi bisa dilihat dari dua sisi. Menerima informasi dan perubahan yang ada, atau mencoba membuat perubahan dari sebuah bentuk kesepakatan informal yang selama ini telah terbangun. Dalam hal ini, kasus pengenalan bahasa indonesia dalam wawancara Nadine dapat merefleksikan sisi yang kedua.

Dengan melihat globalisasi dari kedua sisi tersebut, kita tidak perlu takut untuk belajar terbiasa dengan globalisasi.

Img_0080 Anda boleh sependapat, boleh juga tidak .

Refleksi Merah Putih

Burung_garudaBirmingham, Kamis-17 Agustus 2006

Tidak seperti biasanya, hari ini seperti ada yang tidak biasa. Ada sesuatu yang mengganjal yang sepertinya tidak bisa saya hilangkan begitu saja.

Rasa gundah saya t erjawab dengan text dari salah satu teman di Amsterdam yang mengingatkan pada detik-detik proklamasi kemerdekaan RI. Saya tersadar bahwa berada jauh dari negeri tercinta, semangat dan kebanggaan terhadap bangsa dan negara tetap saja ada. Seketika saya rindu dengan Indonesia.

Saya rindu dengan masa-masa kecil saya saat perayaan 17 Agustusan. Mulai dari pagi dimana harus ada ritual upacara di sekolah, sampai ikutan berbagai lomba yang  diadakan di sekolah dan lingkungan RT. Walaupun tidak pernah menang, tapi at least, ada sesuatu yang tersirat dari perayaan tersebut sehingga saya sangat menantikan kedatangan hari kemerdekaan tersebut.

Saat ini saya terjaga dari lamunan masa kecil tentang indahnya perayaan 17 Agustus-an bagi seorang anak kecil. Yang kemudian tersisa adalah bagaimana Anak_indomerefleksikan gempitanya perayaan tersebut, bagaimana bisa merefleksikan kehadiran merah putih dalam jiwa dan hati saya?

Banyak kawan yang menyebut negara Indonesia dengan negara kampret. Jujur harus diakui, bahwa porsi rakyat kampret sudah cukup menggila. Politisi, pejabat pemerintahan, kalangan bisnis, bahkan kalangan pendidik, bisa terbilang kampret.

Politisi yang berpakaian perlente di DPR, berbondong-bondong 'merayakan' kemerdekaan di gedung DPR. Entah persepsi 'merayakan' apa yang mereka anut. 'Merayakan' kemerdekaan dari belenggu kemiskinan mereka sendiri, karena sebelum jadi politisi, mereka hanya bajingan tengik. Atau, apakah masih ada politisi tersebut yang memang membela kemiskinan rakyat? Itu patut dipertanyakan. Saya tidak bermaksud mengecilkan arti dari sebuah perjuangan sekelompok orang yang 'katanya' memperjuangkan nasib wong cilik. Wong cilik yang mana? Tukang becak? Tukang Jakartanasi pecel? Guru di daerah terpencil? Bagi saya, platform wong cilik yang diusung sekelompok orang ini juga belum jelas. Seandainya wong cilik tersebut akan dibela dan dibantu, seperti apakah bantuannya? Membagi-bagikan uang pada wong cilik tersebut? Itu juga sama tidak jelasnya.

Kemudian, para pejabat di lingkungan pemerintahan rame-rame berkumpul di lapangan upacara untuk mengenang detik-detik proklamasi dengan khidmat. Sepatah dua patah kata dari sang pemimpin upacara selalu mengorasikan hal-hal klise dimana kita harus bisa mengenang jasa para pahlawan yang telah gugur di medan perang. Kita juga harus bisa mensyukuri nikmat kemerdekaan yang telah kita raih. Tapi, bagaimana kita bisa merefleksikan pengorbanan para pahlawan itu disaat para pejabat di pemerintahan berlomba-lomba untuk korupsi? Pejabat di pusat maupun di daerah terlibat dalam korupsi secara berjamaah. Mungkin justifikasi 'manuasiawi' dan 'kewajaran' melakukan kowupsi yang berlaku di banyak tempat, bahkan di negara sekaliber Amerika, membuat para pejabat dan kalangan institusi pemerintahan semakin giat memupuk korupsi tersebutAnak_sekolah. Jika lingkaran setan korupsi berjamaah itu diputus, maka akan timbul lingkaran setan yang lain yang semakin sulit untuk ditembus.

Tidak hanya di jaringan Senayan dan institusi pemerintahan, gegap gempita perayaan 17 agustus juga dilakukan oleh pelaku bisnis. Dengan menebarkan spanduk-spanduk berisi mendukung penuh perayaan kemerdekaan dan jiwa kemerdekaan, pelaku bisnis -yang notabene kapitalis- tak lupa menyertakan simbol-simbol produk mereka sebagai sarana marketing mereka. Semua juga tidak terlepas dari propaganda kapitalis barat yang mencoba menginflitrasi ke dalam sendi perekonomian. Justifikasi globalisasi, perluasan investasi demi efisiensi, serta pertumbuhan ekonomi adalah alasan mujarab yang dilontarkan oleh ekonom neo-liberalism. Demi alasan tersebut pula lah, pelaku bisnis mulai mengepakkan sayap mereka dengan merayu para pejabat dan koruptor ulung untuk menelurkan kredit ringan yang akhirnya membuahkan bencana bagi anggaran negara. Kasus BLBI yang tidak tuntas-tuntas sampai sekarang semakin blur dan tidak bisa lagi dilihat dengan kaca mata telanjang.

Refleksi tadi merupakan bentuk ajaib wajah negara yang mendapatkan kemerdekaan sejak tahun 1945. Sebenarnya patut dipertanyakan apakah memang para pahlawan kita berjuang mati-matian untuk kemerdekaan ataukah kita menghiba-hiba untuk mendapatkan kemerdekaan? Karena, kalo kita menilik sejarah, kita adalah bangsa tertindas yang diuntungkan dengan adanya World War yang membuat Jepang harus bertekuk lutut dengan pasukan sekutu. Kecanggihan negosiasi para the founding fathers juga yang bisa membuat Indonesia merdeka.

Namun, sebuah negosiasi tidak hanya menguntungkan satu pihak saja. Tetap ada conditionality di balik semua negosiasi. Entah negosiasi seperti apa yang dulu dilakukan oleh SOekarno cs waktu mengadakan serangkaian perundingan-perundingan. Entah mengapa pula Kerajaan Belanda baru mengakui kemerdekaan Indonesia tahun 2004 yang lalu. Itu menjadi sebuah tanda tanya buat saya, dan tentunya buat rakyat Indonesia yang juga concern.

Seorang anak kecil mungkin akan membayangkan sebuah perayaan 17 Agustus sebagai ajang lomba makan kerupuk, joget balon, gigit kelereng, atau karnaval sepeda hias. Anak kecil tersebut tida k salah, karena hanya itu yang dia tahu tentang makna hari kemerdekaan. Bahkan jiwa dan semangat hari kemerdekaan ini tidak saya temukan sampai saya memasuki bangku sekolah menengah umum. Yang ada di otak saya adalah menang lomba di sekolah.

Mungkin refleksi merah putih ini bisa membangunkan saya dari hanya sekedar memenangkan lomba di perayaan 17 Agustusan. Mungkin pula refleksi ini bisa membangunkan saya untuk bisa memberi arti dan kontribusi yang terbaik bagi negara yang bersimbol merah putih ini.

Anak_timor_1

Selamat ulang tahun, Indonesia

My Photo

July 2008

Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
    1 2 3 4 5
6 7 8 9 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29 30 31    
Powered by Friendster Blogs